Inovasi IoT: Memperkuat Mitigasi Konflik Gajah di SMKS PGRI Transpram

LAMPUNG TIMUR – Mengawali rangkaian kegiatan di awal Oktober, tim program Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera kembali bergerak untuk mengintegrasikan teknologi Industri 4.0 dalam upaya perlindungan satwa. Pada Jumat, 4 Oktober 2024, SMKS PGRI Transpram menjadi tuan rumah bagi pelatihan intensif mengenai pemanfaatan platform digital dan perangkat pintar untuk meminimalkan konflik antara gajah dan manusia di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Transformasi Konservasi Berbasis Data

Program ini menitikberatkan pada peningkatan kemampuan teknologi penanganan konservasi melalui transformasi digital. Tujuannya adalah memberdayakan para pemangku kepentingan agar mampu menggunakan sistem informasi secara mandiri untuk deteksi dini dan mitigasi konflik di lapangan.

Detail Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan pelatihan ini disusun untuk memberikan wawasan teknis sekaligus pengalaman praktis bagi para peserta dengan rincian sebagai berikut:

Hari/Tanggal: Jumat, 4 Oktober 2024.

Lokasi: SMKS PGRI Transpram Lampung Timur.

Tim Pelaksana: Mas Diko Prasojo (PPTIK) dan Mas Fahmi, serta didampingi oleh tim dari Kehati (Mas Fajar dan Bang Teo).

Materi Utama: Penggunaan media center www.tnwk-pptik.id serta pengenalan alat IoT (Internet of Things) berupa kamera pemantau.

Peserta: Diikuti oleh perwakilan teknis dan siswa, termasuk Diko Prasojo, Yogi Andi, dan M. Fahmi.

Implementasi Teknologi IoT di Lapangan

Sesi kali ini memberikan nilai tambah dengan diperkenalkannya teknologi kamera IoT oleh Mas Fahmi. Perangkat ini dirancang untuk memantau pergerakan gajah secara real-time, memberikan peringatan dini kepada masyarakat, dan mendukung proses pengambilan keputusan yang lebih cepat serta akurat dalam situasi darurat.

Luaran Strategis dan Keberlanjutan

Pelatihan di SMKS PGRI Transpram ini menghasilkan beberapa capaian strategis, antara lain:

  1. Peningkatan Literasi Teknologi: Peserta kini memiliki keterampilan baru dalam mengoperasikan perangkat IoT dan platform digital untuk konservasi.

  2. Sinergi Antar-Lembaga: Terjalinnya kolaborasi yang lebih erat antara tim teknis, institusi pendidikan, dan organisasi konservasi seperti Kehati.

  3. Pengembangan Pusat Latihan Gajah: Memperkuat fungsi Pusat Latihan Gajah sebagai sentra edukasi dan rehabilitasi yang berkelanjutan bagi masyarakat luas.

  4. Standarisasi Data: Pendokumentasian seluruh hasil pelatihan, termasuk modul dan hasil evaluasi, guna mendukung kegiatan serupa di masa depan.

Melalui integrasi teknologi IoT, diharapkan sinergi antara dunia pendidikan dan upaya konservasi di Lampung Timur dapat menciptakan harmoni yang lebih kuat bagi kelestarian Gajah Sumatera.

Share This :