Mengintegrasikan Teknologi di Akar Rumput: Pelatihan Mitigasi Digital bersama KTH Raja
LAMPUNG TIMUR – Keberlanjutan sistem mitigasi konflik gajah sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat yang tinggal di baris depan. Pada Jumat, 16 Agustus 2024, tim program Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera mengadakan sesi pelatihan dan sosialisasi mendalam bagi anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Raja di Desa Labuhan Ratu VII.
Memperkuat Kapasitas Masyarakat Desa
Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap elemen masyarakat, khususnya para petani yang tergabung dalam KTH Raja, memiliki pemahaman yang kuat mengenai implementasi teknologi Industri 4.0 dalam menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
Detail Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan ini diikuti oleh tim teknis lengkap dan perwakilan kelompok sasaran:
Hari/Tanggal: Jumat, 16 Agustus 2024.
Lokasi Utama: Desa Labuhan Ratu VII.
Tim Pelaksana: Yogi Andi, Diko Prasojo, Asep T, Fahmi, Dawas, dan Fizar.
Fokus Utama: Dari Sosialisasi ke Aksi Nyata
Materi yang disampaikan dalam sesi ini mencakup beberapa poin strategis yang berfokus pada kemandirian masyarakat:
Peningkatan Kesadaran Digital: Mengedukasi masyarakat agar lebih sadar akan manfaat data dan teknologi dalam memantau kehadiran satwa liar di sekitar lahan mereka.
Penjaringan Umpan Balik: Sesi ini menjadi ruang diskusi bagi anggota KTH Raja untuk memberikan masukan terhadap platform digital yang sedang dikembangkan agar lebih sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Optimalisasi Peran PLG: Menekankan peran penting Pusat Latihan Gajah (PLG) tidak hanya sebagai tempat rehabilitasi, tetapi juga sebagai pusat data yang dapat membantu petani melakukan mitigasi secara mandiri.
Luaran yang Dicapai
Kegiatan ini membuahkan hasil positif bagi keberlanjutan program:
Keterlibatan Pemangku Kepentingan: Adanya peningkatan dukungan dari tokoh masyarakat dan anggota KTH dalam menjalankan program konservasi berbasis digital.
Jaringan Kolaborasi: Memperkuat ikatan kerja sama antara akademisi, teknisi, dan kelompok tani hutan sebagai pelaksana mitigasi di lapangan.
Basis Dokumentasi: Hasil pelatihan dan masukan dari warga didokumentasikan sebagai bahan evaluasi untuk menyempurnakan panduan dan modul pelatihan di masa depan.
Harapan ke Depan
Pelatihan pada tanggal 16 Agustus ini menegaskan bahwa teknologi bukan hanya milik para ahli di laboratorium, melainkan alat yang harus dikuasai oleh masyarakat luas. Dengan KTH Raja yang semakin “melek digital”, diharapkan konflik gajah dan manusia di Desa Labuhan Ratu VII dapat ditekan seminimal mungkin melalui sistem peringatan dini yang cerdas dan terintegrasi.