Menjaga Perlintasan Gajah: Sosialisasi Teknologi Digital bagi Kelompok Tani Hutan Bina Warga

LAMPUNG TIMUR – Upaya perlindungan Gajah Sumatera terus diperluas hingga ke kelompok-kelompok masyarakat yang bersinggungan langsung dengan habitat satwa. Pada Selasa, 8 Oktober 2024, tim program Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera mengadakan sesi sosialisasi strategis bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Bina Warga, salah satu kelompok tani penyangga utama di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Kolaborasi Komunitas dan Teknologi

Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan kemampuan teknologi penanganan konservasi melalui transformasi platform digital. Tujuannya adalah memastikan masyarakat di tingkat akar rumput, khususnya petani hutan, dapat menggunakan sistem informasi secara mandiri untuk upaya mitigasi dan deteksi dini konflik gajah di wilayah mereka.

Detail Pelaksanaan Kegiatan

Sosialisasi dilaksanakan dengan pendekatan personal dan dialogis di lokasi yang strategis bagi masyarakat setempat:

Hari/Tanggal: Selasa, 8 Oktober 2024.

Lokasi: Rumah Ketua KTH Bina Warga.

Tim Pelaksana: Diko Prasojo dan Yogi Andi, didampingi oleh rekan-rekan dari SMKN 1 Braja Selebah.

Peserta Utama: Bapak Suhandak (Ketua KTH Bina Warga) beserta anggota kelompok tani.

Agenda: Sosialisasi sistem konektivitas digital dan pemanfaatan sistem informasi mitigasi konflik.

Perlindungan di Jalur Perlintasan Strategis

KTH Bina Warga memiliki peran yang sangat krusial karena lokasinya merupakan salah satu akses utama menuju daerah Desa Wisata Braja Harjosari. Di wilayah ini terdapat padang savana yang dikenal sebagai daerah perlintasan aktif gajah. Melalui sosialisasi ini, para petani dibekali pemahaman mengenai penggunaan teknologi informasi untuk memantau pergerakan gajah dan memberikan peringatan dini jika satwa mendekati lahan garapan.

Luaran Strategis dan Harapan

Melalui pertemuan ini, tim berhasil mencapai poin-poin krusial bagi keselamatan warga dan satwa:

  1. Akses Informasi: Pemangku kepentingan di KTH Bina Warga kini memiliki pengetahuan mengenai sistem konektivitas digital yang dapat membantu mereka merespons kehadiran gajah dengan lebih cepat dan tepat.

  2. Sinergi Lintas Sektor: Terciptanya kolaborasi antara tim teknis, pihak sekolah (SMKN 1 Braja Selebah), dan kelompok tani dalam menjaga keamanan kawasan.

  3. Kemandirian Lokal: Menguatkan peran serta masyarakat desa penyangga untuk tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor aktif dalam program konservasi nasional.

  4. Keberlanjutan Program: Sosialisasi ini juga mendukung penguatan Pusat Latihan Gajah sebagai sentra edukasi bagi seluruh elemen masyarakat sekitar TNWK.

Kegiatan bersama KTH Bina Warga ini membuktikan bahwa teknologi Industri 4.0 dapat berpadu harmonis dengan kearifan lokal para petani dalam menjaga kelestarian alam Lampung Timur.

Share This :