Digitalisasi Konservasi: Sosialisasi Perangkat IoT dan Aplikasi Kawal Desa di Kantor Balai TNWK

LAMPUNG TIMUR – Upaya transformasi digital dalam manajemen konflik gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) memasuki tahap pengenalan teknologi kepada jajaran pimpinan dan staf. Pada Kamis, 3 Oktober 2024, tim program Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera melaksanakan sosialisasi sistem terpadu yang bertempat di Kantor Balai TNWK.

Integrasi IoT dan Sistem Peringatan Dini

Kegiatan ini difokuskan pada pengenalan perangkat keras dan lunak yang akan menjadi tulang punggung sistem informasi mitigasi konflik gajah-manusia. Dengan mengadopsi teknologi Industri 4.0, Balai TNWK diharapkan dapat memiliki basis data yang lebih akurat dan respon lapangan yang lebih cepat.

Detail Pelaksanaan Kegiatan

Sosialisasi ini melibatkan tim teknis multidisiplin serta pemangku kepentingan utama di lingkungan Balai TNWK:

Hari/Tanggal: Kamis, 3 Oktober 2024.

Lokasi: Kantor Balai TNWK.

Tim Pelaksana: Pak Marzuki, Adi Permana, Agus Sukoco, Handoko, Dr. Hil, Pak Cucus, dan Ibu Maria.

Peserta: Kepala Balai TNWK, Kepala Seksi 3, serta staf operasional.

Komponen Teknologi yang Diperkenalkan

Dalam sesi ini, tim memaparkan tiga pilar utama sistem yang sedang dikembangkan:

  1. Perangkat IoT (Kamera ESP32): Pengenalan kamera berbasis mikrokontroler yang dirancang untuk memantau titik-titik rawan secara mandiri dan mengirimkan data visual melalui jaringan internet.

  2. Sistem Panic Button: Alat peringatan darurat yang dapat diaktifkan oleh petugas atau warga saat terjadi konflik gajah, yang langsung terhubung ke sistem pusat.

  3. Aplikasi Kawal Desa: Sosialisasi antarmuka dan cara penggunaan aplikasi mobile yang berfungsi sebagai media pelaporan, verifikasi data, dan koordinasi antara warga desa penyangga dengan petugas taman nasional.

Evaluasi dan Tanya Jawab

Pertemuan ini juga menjadi wadah diskusi interaktif untuk menyempurnakan sistem. Beberapa poin penting yang muncul dalam sesi tanya jawab antara lain:

  • Identifikasi Kekurangan: Masukan dari staf Balai mengenai kendala fisik di lapangan (seperti sinyal dan ketahanan alat) yang menjadi catatan bagi tim teknis.

  • Optimalisasi Fitur: Diskusi mengenai alur koordinasi agar data dari aplikasi “Kawal Desa” dapat langsung diterjemahkan menjadi tindakan operasional oleh tim Satuan Tugas (Satgas) di lapangan.

Luaran Strategis

Melalui sosialisasi di Kantor Balai ini, pemangku kebijakan di TNWK kini memiliki gambaran komprehensif mengenai potensi teknologi digital dalam menjaga kelestarian gajah. Dukungan dari jajaran pimpinan Balai menjadi modal penting bagi kelancaran instalasi perangkat IoT dan implementasi Aplikasi Kawal Desa di seluruh desa penyangga TNWK ke depannya.

Langkah ini mempertegas komitmen TNWK untuk menjadi kawasan konservasi modern yang mengedepankan sinergi antara teknologi cerdas dan keterlibatan masyarakat.

Share This :